Wednesday, April 18, 2018

Kiat Mencegah Penyakit Tidak Menular Bersama Anlene

Hari ini, Rabu 11 April 2018 saya diundang menghadiri acara gathering media dan blogger di rumah Imam Bondjol Menteng, dalam rangka campaign Anlene: "Ayo Indonesia Bergerak". Kampanye ini ditujukan kepada seluruh masyarakat dalam rangka meningkatkan aktivitas fisik guna melawan gaya hidup sedentari.

Gaya hidup sedentari?

Yang dimaksud gaya hidup sedentari adalah gaya hidup malas gerak, atau yang kita biasa sebut mager. Wah mager bahaya nih? Hehe, ternyata iya, kebanyakan mager, atau sedentari ini bahaya. Berdasarkan data riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa 24,1% penduduk Indonesia menjalani perilaku sedentari lebih dari 6 jam perhari. Kondisi ini menunjukkan seperempat masyarakat Indonesia berpotensi terserang penyakit tidak menular, antara lain stroke, penyakit jantung, dan diabetes mellitus. 

Salah satu nara sumber dari Fonterra Brands, Rohini Behl, Technical Marketing Advisor, mengatakan bahwa kondisi saat ini sangat tepat untuk mengajak masyarkat Indonesia melawan fenomena risiko penyakit tidak menular salah satunya dari gaya hidup. Fonterra Brands, atau yang dikenal dengan salah satu merk dagang Anlene ini percaya bahwa bangsa yang kuat bermula dari masyarakat yang sehat dan aktif.

Adanya kampanye "Ayo Indonesia Bergerak" ini juga turut mendukung program pemerintah Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). Yang saya suka, dari kampanye ini tidak hanya fokus ke penjualan produk, tetapi juga mengajak untuk sadar dan aktif berolahraga.

Jadi salah satu cara yang terbukti menjauhkan kita dari potensi penyakit tidak menular adalah dengan aktif berolahraga.

Monday, April 9, 2018

Review Wangskin Lip Tattoo Pen Red from Charis

Saya paling suka kalau sudah bicara soal lipstik, koleksi lisptik dan beli lipstik baru. Ada saja alasan buat selalu beli barang baru, walaupun sudah punya yang mirip. Seringkali, saya dapat request dari pasangan supaya lisptiknya tidak menor, tidak lebay, dan kiss-proof. Nah, requestnya pas banget nih, kebetulan saya lagi mau review lip tattoo yang saya dapat dari Charis.

Charis ini merupakan online shop Korea yang menjual local brand Korea, dan barangnya juga dikirim langsung dari negara asal. Wah, kena red line dong? Tadinya iya, tapi sekarang sepertinya pengiriman ke Indonesia sudah lancar, jadi barang yang dibeli seharusnya nggak akan ada masalah dalam pengiriman ke Indonesia. Jadi kalau mau beli ke Charis saja karena online shop lain saya sih nggak tau ya.




WangSkin ini merupakan brand lokal asal Korea Selatan yang memproduksi line makeup dan skincare, salah satunya yang saya review kali ini: WangSkin Lip Tattoo Pen punya saya warna merah.

Packaging
Kemasannya mengingatkan saya pada lipgloss jadul dengan aplikator seperti salep di mana produknya langsung keluar dan bisa diaplikasikan ke bibir. Ada kotaknya jadi nggak takut tertukar dengan barang lain, dan barang yang masih baru tersegel dengan stiker.


Thursday, April 5, 2018

7 Alasan Saya Tidak Datang Jakarta x Beauty 2018

Ngomongin acara beauty ini exciting, dan senang banget bikin hati kebat-kebit bahkan sebelum acaranya dimulai. Dan acara yang bakalan digelar tahun ini adalah Jakarta x Beauty 2018 yang akan diadakan tanggal 27-29 April 2018 ini.

Jakarta x Beauty ini singkatnya adalah pameran makeup dan skincare, di mana di dalamnya ada acara beauty talk dan beauty class yang dapat diikuti oleh peserta dengan tiket terpisah. Tiket masuknya juga bisa ditukarkan dengan goodie bag di pintu masuk.

Saya pribadi sih, 90% rasanya tidak akan datang ke acara ini. Jadi ini beneran opini saya pribadi, bukan penggiringan isu supaya pada ngga datang ya, tidak sama sekali. Bukan karena saya nggak mampu beli tiketnya, buat saya tiketnya nggak mahal kok, cuman 50.000 saja (tapi nggak dapat goodie bag), namun ada faktor-faktor kenyamanan yang menurut saya perlu dipertimbangkan, apalagi jika datang bersama anak-anak.

Ini foto saya waktu datang pas 2017 lalu, biar nggak disangka hoax.



Kenapa saya tidak akan datang di Jakarta x Beauty 2018 ini?

1. Tahun lalu, brand makeup yang di-launching di Jakarta x Beauty 2017 ternyata sudah lebih dulu ada di pasaran dengan harga yang kurang lebih sama.

Thursday, March 29, 2018

Review Ovale Micellar Water

Tahun 2018 bisa dibilang jadi tahunnya micellar water, karena demand yang tinggi, pengennya bisa menghilangkan makeup dengan cepat, mudah, dan nggak ribet. Menghapus makeup dengan milk cleanser is so yesterday ya, aku saja sekarang udah nggak ingat kapan terakhir kali pakai susu pembersih itu.

Nah, beberapa waktu yang lalu aku beli micellar water dari Ovale, karena penasaran sama harganya yang murah, dibandingkan produk sejenis brand lain. Bagus atau tidaknya sih aku juga nggak terlalu berharap banyak, secara harganya murah, sekitar 25rb udah dapat botol gede gitu ya. Nah, terus gimana, bagus ngga sih? Yuk yuk, aku review, super honest review tentunya, mau sponsor item ataupun beli sendiri, kalau bagus ya aku bilang bagus, kalau kurang bagus ya aku bilang apa adanya. 

Packaging
Buat yang familiar sama pembersih muka dari Ovale, kemasannya ini berbeda jauh dengan Ovale jaman dulu, kemasannya lebih simple, dan tutupnya pink kesannya lebih girly. Ada juga sih yang khusus acne tutupnya warna hijau namun karena aku ngga jerawatan ya beli yang varian biasa ini aja. Kemasannya sendiri cukup kuat dan anti tumpah, walaupun dalam posisi terbalik cairannya nggak muncrat ke mana-mana.

Kesan pertama yang muncul setelah menuangkannya di kapas, aku selalu mencium baunya terlebih dahulu, baru dioleskan ke wajah. Baunya sih agak aneh, dan sayangnya ketika dioleskan ke wajah, baunya makin menyengat seperti micin busuk. Aduh, aku ngga tau harus gimana ya mendeskripsikannya, entah ini barangnya cacat pabrik, atau emang baunya aneh, tapi bener-bener mengganggu. Ya endingnya ketebak, setelah selesai menggunakan Ovale micellar water ini aku akan cuci muka lagi dengan air.








Wednesday, March 14, 2018

Focallure Aman atau Tidak sih?


Membahas Focallure mungkin termasuk telat untuk sekarang ini, dan walaupun ini bukan ranah saya, namanya makeup enthusiast sesekali tergelitik lah ya untuk cuap-cuap sendikir mengenai Focallure ini.

Update: Maret 2018, BPOM sudah ada, terdaftar (bisa cek di web BPOM). Semoga sih aman

Focallure ini adalah brand asal China, iya dari China, buatan lokal sana. Lantas karena dari China, bukan berarti Focallure ini brand abal-abal, karena perusahaannya sendiri terdaftar di Alibaba dan memiliki history transaksi yang cukup bagus untuk kategori perusahaan. Histori transaksi di alibaba sendiri merupakan salah satu tolok ukur apakah perusahaan tersebut menjual secara resmi lewat platform tersebut, atau tidak. Alibaba ini ya pasarnya, ibarat tokopedia-nya China, tapi khusus untuk wholesale / grosir, jadi bukan jualan eceran. Jadi kalau yang nanya barang ke Alibaba lantas dicuekkin sellernya, itu sih biasa, mungkin pertanyaan kalian di bawah minimum order. 

Saya sendiri belum pernah mencoba brand Focallure ini, dan sebelum mengantongi BPOM, Focallure sudah terlebih dahulu ada di Indonesia, bekerja sama dengan influencer terkemuka, dan sudah muncul banyak video review-nya di Youtube.

Terlepas dari bagus atau tidaknya sebuah brand, kemunculannya yang melangkahi sertifikasi BPOM-nya perlu dipertanyakan. Kedatangan seperangkat makeup yang bisa melewati BPOM hanya dengan dua cara di Indonesia ini, yakni hand carry (dimasukkan ke dalam koper, dibawa oleh penumpang pesawat udara) dan menggunakan jalur import berisiko tinggi, alias impor borongan, tidak bayar pajak, tidak lapor BPOM (ya iyalah, kalau lapor BPOM duluan nggak bakalan bisa beredar sebelum ada nomernya). Itulah kira-kira caranya Focallure masuk ke Indonesia.

Ya kalau nanya pendapat saya pribadi sih, saya agak kurang senang dengan cara suatu "brand" masuk seperti ini. Ini baru awalnya ya, belum nanti jika ada masalah, jika ada yang alergi, jika ada yang nggak cocok, dan jika ditemukan dna pig. Semoga sih enggak ya.

Terus kenapa bisa murah? Tanya Xiaomi aja, kenapa dia murah? Ini sih buat saya jawabannya sederhana, karena (berdasarkan pengalaman sendiri) ongkos kerja di China murah, pekerjanya bisa kerja selama 13 jam sehari, dan dijual secara online sehingga menekan biaya promosi. Ya kurang lebih mirip kayak Xiaomi pertama kali muncul ke Indonesia-lah. Itu pendapat pribadi saya secara pengusaha ya, lebih memilih barang terjual banyak dengan keuntungan tipis, dibandingkan untung besar namun penjualan tidak terlalu bagus. Kayak jual sembako saja deh.

Nah, yang bikin murah apalagi? Kedua, biaya pengiriman dari China ke Indonesia itu murah, apalagi buat penjual perorangan yang cuman kirim pakai amplop saja, itu jarang hilang loh, segituu bagusnya pos dari China itu. Beda ya sama pos Indonesia yang jika menggunakan amplop, malah lebih besar risiko hilangnya. Oh iya, harga amplopnya juga murah, soalnya di lokal China itu barang komoditas biasa buat online shop, pakai amplop bubble itu lho. Kalau di Indonesia kenapa mahal karena packagingnya juga mahal.

Secara kualitas saya sendiri kurang puas dengan barang China, karena kebiasaan orang China khususnya pabrikan barang murah adalah melakukan penggantian material dan formula dari versi sebelumnya dengan berbagai alasan, alasan yang paling sering saya terima adalah: "Ini merupakan versi baru dari produk kami, lebih bagus dari produk sebelumnya." Ini bukan tanpa dasar ya saya membuat opini seperti ini, jadi memang sudah bertahun-tahun berbisnis dengan orang China, sehingga saya jadi hafal kebiasaan mereka, khususnya pabrikan. Kedua, dari sisi produk saya agak kurang yakin karena produk biasanya mudah discontinue, tanpa sebab yang jelas. Ya semoga sih Focallure lebih baik ya, nggak seperti barang China yang sebelum-sebelumnya pernah saya beli.

Kalau kata orang mengandung unsur pig itu buat saya pribadi nggak masalah, secara di China pig itu makanan umum, semua orang (kecuali yang muslim) ya makan pig, kalau kena bekas-bekas terpegang pig ya apa boleh buat. Konon sih lagi dibikin sertifikasi halal MUI-nya di Indonesia. Toh banyak kok brand kosmetik yang dibuat di China juga, nggak hanya Focallure.

Bagus atau tidaknya saya kurang tahu, nanti nunggu dapat hibahan Focallure saja.



See you in my next post, please drop comment below so we can know your experience too

Wednesday, March 7, 2018

Berkreasi dengan Makanan Cantik dengan Gizi Seimbang



Urusan makanan, saya termasuk pemilih, termasuk dalam penampilan makanan pun harus terlihat menarik supaya memakannya pun bisa dengan hati senang. Sayangnya, dalam keseharian di mana bisnis harus tetap jalan, diwarnai dengan karyawan yang terkadang tiba-tiba tidak masuk, membuat saya jadi kesulitan kalau harus terus memasak dan menyiapkan menu lengkap.

Pilihannya apa? Tentu saja pilihannya jatuh ke makanan siap saji. Wah, makanan siap saji banyak pengawetnya dong? Aman nggak buat anak-anak? Dasar emak-emak malas!

Jadi begini ibu-ibu dan pembaca, saya pribadi bukan ibu-ibu idealis yang di mana semua menu makanan berasal dari masakan saya, karena priotitas saya di sini adalah menjaga supaya kebutuhan makanan sehari-hari tercukupi dengan gizi yang baik. Di sini pinter-pinternya saja, memilih makanan siap saji tentu saja yang berkualitas.

Salah satu merk andalan saya selama beberapa tahun ini jatuh pada brand "So Good" yang sudah teruji kualitasnya sejak dulu. So Good ini menggunakan protein hewani berkualitas sehingga rasanya juga lebih enak, padat, berdaging dan nggak rasa tepung.




Supaya kebutuhan gizi keluarga terpenuhi, dalam satu piring makanan sebaiknya terdiri dari sayur, buah, protein, dan karbohidrat. Saya pribadi termasuk garis keras pemakan karbo, walaupun banyak bermunculan diet no karbo, tetep saja gagal dan kembali ke karbo memang terbaik, tentunya dengan asupan gizi lainnya.

Kalau dilihat-lihat, sebenarnya makanan siap saji ini nggak apa-apa daripada memaksakan cuman dikasih makanan sekedarnya, malah nggak bergizi. Ujung-ujungnya kalau saya terlalu idealis malah jadi kekurangan gizi.

Faktor kedua dalam penyajian makanan adalah food styling, alias makanan kudu ditata dengan cantik di piringnya. Kenapa begitu? Coba deh pikir, kalau di resto-resto pasti makanan itu disusun cantik, tidak berlebihan banyaknya, sehingga menimbulkan kesenangan saat memakannya.

Di foto ini saya menggunakan bahan-bahan sebagai berikut:
1. Wortel 
2. Pepaya
3. Nugget yang sudah digoreng
4. Nasi







#BPNXSoGoodPiringGiziSeimbang


FB Page: SoGoodID
Twitter: @so_good_id
Instagram: @SoGoodID

Website: sogood.id

See you in my next post, please drop comment below so we can know your experience too

Thursday, February 22, 2018

Review Softlens X2 Glam Citrine



Aku seneng banget kalo melihat feed instagram dengan makeup penuh warna dan softlens yang lucu-lucu, sayangnya beberapa bulan belakangan ini aku takut mencoba softlens baru karena pernah punya riwayat iritasi mata.


Jadi ya hanya sedikit merk saja yang cocok buat aku, dan kalau sudah cocok, aku enggan ganti merk lain. Apalagi dari sisi harga jika menurut aku murah, malah takut membelinya karena takut jelek.


Terus beberapa waktu yang lalu, ceritanya ya bosen lah sama softlens yang itu-itu saja, kepengen ganti dan keliling dulu di online, akhirnya memutuskan untuk meminang softlens yang dari X2, yaitu X2 Glam.

X2 ini adalah merk softlens yang sudah cukup tua dan lama di Indonesia, dan memang spesialisasinya di softlens warna. Dulu banget, aku emang pernah mencoba softlens X2, namun semenjak adik aku membeli softlens X2 Bio dan mengalami sobek softlens di mata, aku jadi kapok, nggak berani beli dulu.

X2 Glam yang aku beli ini warna Citrine, warna coklat yang agak terang namun pas dipakai tampak natural dengan perbesaran yang tidak lebay.

Harganya bervariasi di online shop, sekitar 45-60ribu, dan perlu ditanyakan ke tokonya apakah punya stok minus, karena rata-rata yang dijual adalah plano / normal.

Berikut ini adalah spek X2 Glam yang aku ambil dari website X2
Base Curve : 8.60 mm
Diameter : 15 mm
Power Range: Plano-6.00D (step 0.25D)
6.00D-10.00D (step 0.50D)



Diameternya 15mm tapi pas dipakai tidak terlalu besar karena ringnya berwarna soft sehingga tidak terlihat palsu di mata.




Ketahanannya bagaimana? Biasanya aku pakai softlens mencapai 16 jam, namun X2 Glam ini tidak berani aku coba selama itu, jadi aku pakai selama 13 jam masih kuat tanpa tetes mata. Kelemahannya, adalah saat dipakai dalam kondisi mata yang "tidak fit" alias kurang tidur, maka akan terasa perih. Kalau perih, mendingan jangan dipakai sampai mata terasa terang kembali. 

See you in my next post, please drop comment below so we can know your experience too

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...