Wednesday, August 2, 2017

Pengalaman Tian Berobat ke Dokter THT - Part 1

Bicara soal anak sakit, hati orang tau mana yang tidak hancur dan bersedih, melihat anaknya bolak balik harus ke dokter, dan menjalani serangkaian pemeriksaan yang terkadang menyakitkan, dan tidak kunjung sembuh.

Hal ini terjadi pada anak pertama kami, Christian yang biasa kami panggil Tian, hari ini berusia 4 tahun lewat 2 bulan, dan duduk di bangku TK. Tian mengalami telinga bermasalah, keluarnya cairan kental seperti kotoran telinga yang terus terjadi, selama 1 tahun terakhir.

Kronologisnya seperti ini:
Bulan Juni 2016 cairan telinga itu pertama kali terlihat. Kondisi badan Tian selama ini tidak pernah ada "masalah" yang berarti, dia sehat, doyan makan, dan aktif seperti anak normal pada umumnya. Karena melihat cairan di telinga ini, tanggal 4 Juni 2016 kami membawanya ke RS Hermina (waktu itu masih yang RS lama di Sunter) dan ditangani oleh dr. Mutia Budiati Sp. THT. Karena ini pertama kalinya ke THT, dilakukan pemeriksaan endoskopi telinga. 

Ini gambar google, tapi kira-kira seperti ini cairan yang muncul. Bisa terlihat hanya dengan senter biasa


Endoskopi telinga ini jadi dimasukkin alat kecil yang ada kameranya dan nanti kita bisa melihat hasilnya di layar, serta dibawakan fotonya. Oleh dokter dinyatakan ada lubang di gendang telinga, dan memang terlihat dengan jelas di foto hasil endoskopi. Sayangnya fotonya udah lama hilang, tapi hal ini wajib banget supaya tahu kondisi telinga, dan ini nggak sakit selama anaknya diam dan kooperatif. 

Menurut dokter, kondisi gendang telinga berlubang pada anak-anak bisa sembuh karena masih dalam masa pertumbuhan (nah kalo dewasa dan bangkotan piye jal?). Waktu itu diresepkan obat tetes Tarivid, H2O2 serta antibiotik minum, dan Tian dilarang kena air (berenang, mandi harus telinga kanan ditutup kapas, serta nggak boleh minum es). Owalah le....kok anak-anak kecil lain bisa leluasa minum es tapi kamu kok ndak boleh to, baperlah saya di situ.


Waktu demi waktu berlalu, Tian pas dibawa ke dokter THT yang kemarin itu ternyata sekarang tidak mau diam dan berontak, dan dokternya ciut melihat keberontakan Tian sehingga tidak berani menyedot kotoran yang menggenang di bagian dalam liang telinga. Ya, memang berisiko jika anaknya meronta-ronta. Jadi moms yang kebetulan membaca postingan saya ini, kalau dokternya ciut juga lihat anak-anak berontak, maka cobalah mengerti bahwa mereka melakukan segala sesuatunya dengan hati-hati, demi keselamatan anak kita sebagai pasien.

Teorinya demikian, tapi pas pulang dari dokter baper juga saya. Loh, kok dokternya malah takut liat Tian, bukannya minta orang tuanya pegangin dia dengan erat. Ah elah, karena kami juga nggak sabar anak pengen sembuh, akhirnya setelah 3x kunjungan ke dr. Mutia ini kami ganti dokter. Saya emang nggak sabaran kalau melihat dokter yang tidak greget menyembuhkan, gimana ya, kayak chemistri berkurang gitu loh. Bukannya menjelekkan, mungkin kami aja yang nggak jodoh.

Pergantian dokter ini kami putuskan karena sekitar beberapa bulan setelah itu telinga kana Tian sempat terlihat sembuh, namun ngga lama berair lagi. Kali ini masih di RS Hermina Kemayoran (pindahan dari Sunter) dengan dr. Brastho Bramantyo, Sp. THT (ya iyalah ngga mungkin ke dokter anak). Dr Bram, begitu beliau dipanggil ini orangnya cukup ramah, nggak kaku kayak dokter-dokter tua (emang beliau masih agak muda), dan beliau ini hari itu berhasil menyedot kotoran kuping Tian walaupun Tian meronta-ronta. Amazing kan ya. Beberapa kali berobat ke dokter ini sempat sembuh, namun kumat lagi, dan terakhir sepertinya kok ngga dilakukan tindakan sedot menyedot sehingga kelihatannya kotoran kuping itu makin numpuk gemeriyek di dalam telinga. Ah dok....kok ya nggak disedot lagi biar cepet beres to. Resep terakhir kotoran telinga dikasih glycerine supaya bisa keluar, sayangnya makin ke sini kok nggak habis-habis kotorannya yang putih-putih cair itu. (Tidak bau)

Setelah nanya-nanya ke grup mommy TK, direkomendasikan RS THT Proklamasi. 22 Juli berobat di  dr. Purna Irawan, Sp. THT di RS Tht Proklamasi. Sebelum datang supaya kotorannya ngga keras sudah saya tetesin glycerin terlebih dahulu. Ketika datang ke dokter kami mendapatkan antrian no 11 dan tidak lama kemudian kami masuk ke ruangan dokter. Kami menceritakan kronologis telinga kanan yang sudah beberapa kali dibawa ke dokter THT sebelumnya, disedot, dan kami pindah dokter kali ini karena dokter sebelumnya bilang kotorannya dikasih glycerin supaya keluar, namun sepertinya saya kurang sabar (sudah dikasih tetes lama namun masih ada putih-putihnya).

Saya minta pendapat dokter Purna ini sekalian mengecek kondisi telinga kanan Tian. Sama dokter dinyatakan telinga kanan tidak apa-apa, tidak ada lubang, dan boleh berenang maupun minum es (sebelumnya nggak boleh). Obat yang diresepkan Ottopain untuk gatal, di telinga kanan dan kiri Sebanyak 2 tetes 3x sehari selama 4 hari.

Oke, hari Jumat minggu depannya kami berenang dan kemudian mandi keramas seperti biasa, hari Selasa Tian bilang telinga kanan suara lebih kecil dengarnya dibanding kiri dan kepalanya dung dung jika ditepuk. (maksudnya kayak kemasukkan air gitu)

Hari ini Rabu kami kembali ke RS Tht proklamasi tanpa appoinment karena di sana hanya bisa per kedatangan, ngga bisa booking in advance untuk semua dokter. Bermacetan luar biasa di jalan kami nyampe sana setelah hampir 2 jam, dan pilih Prof. dr. Bambang Hermani, yang merupakan salah satu founder dari RS THT Proklamasi ini. Oke saya kembali menceritakan kronologis semenjak umur 3 tahun Tian dicek kalau telinga kanan ada lubang, dan kali ini dokternya bilang juga telinga kanan itu masih ada infeksi (which is sudah dinyatakan clear, oleh kedua dokter THT sebelumnya). 

Beliau bilang begini, kalau ngga ada infeksi cairan tidak akan keluar terus menerus, dan jika pilek harus segera diobati. Katanya kalau tidak bakalan infeksi lagi, dan ngga ada solusi ketika saya tanyakan gimana supaya tidak infeksi lagi. Bahkan ketika suami saya bilang Tian sudah 10x dalam 2 tahun ke dokter tht, pak dokter ini bergeming nggak mengatakan apa-apa. Bukannya ngga puas sih, cuman kurang greget aja karena lagi lagi harus mengulang pengobatan dengan obat tetes tarivid dan antibiotik, dan ottopain-nya nggak boleh diberikan lagi. Kami belum menyerah, jadi obatnya kali ini akan dihabiskan dan nanti saya update hasilnya ya.


See you in my next post, please drop comment below so we can know your experience too

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...