Perencanaan Keuangan di Usia 30 Tahunan

Bicara tentang keuangann ini sangat menarik walaupun ini topik sensitif, terutama buat sebagian orang yang masih belum merasa berkecukupan. Belum lagi baca-baca feed di social media yang cenderung menebar “ketakutan”.

Ketakutan, iya. Sekaran takutnya bukan sama jerawat lagi, tapi dengan pertanyaan-pertanyaan: sudah punya tabungan rutin belum? Kalau asuransi kesehatan, lalu asuransi jiwa? Dana darurat apa kabarnya? Eh ada juga dana-dana lain, dana pernikahan, kelahiran anak, maternity shoot, dana pendidikan juga?

Apalagi seperti saya, sudah melewati 30 tahun, dan berkeluarga.

Sudah mulai tidak nafsu makan membayangkannya, ternyata hidup nggak hanya butuh pasangan saja, atau ada anak bakalan ada rejeki, tapi butuh uang! Saya sendiri masih hedon sesekali, dan hobi ngumpulin foto walaupun nggak sering-sering banget posting di feed. Namun, jangan lupa namanya perencanaan keuangan mulai dari sekarang.

Wah, kalau perencanaan keuangan berarti banyak dong yang harus disiapkan? Benar, banyak yang harus disiapkan. Saya akan bahas juga beberapa cara perencanaan keuangan ala saya, yang bisa diterapkan bahkan dari usia muda:

1. Jual warisan

Ini adalah perencanaan keuangan paling mudah jika punya warisan. Ketika mendapatkan warisan, baik itu dalam bentuk uang maupun aset, otomatis jadi mudah me-manage ketika sudah liquid. Namun, kekurangannya adalah nggak semua orang dapat warisan yang nilainya “plus”, kadang-kadang ada yang warisannya malah berupa hutang.


2. Menikahi pasangan kaya


Ini cita-cita saya jaman dulu, sebelum saya menikah. Saya punya keinginan menikahi pria yang kaya supaya saya tidak perlu bekerja. Kenyataannya begitu saya menikah, tidak bekerja itu terasa hampa, apalagi jika berada dalam mode “meminta” uang pasangan. Bukan berarti salah, cuman ternyata cara ini nggak nyaman saja buat saya.



3. Punya banyak anak


Ini banyak dilakukan oleh masyarakat karena punya banyak anak bisa berpotensi ada yang mengurus di hari tua. Sejujurnya saya sendiri belum sampai pada tahap ini, dan orang tua saya juga tidak mengajarkan saya metode ini karena punya beberapa kelemahan, yakni pasti berkurangnya kenyamanan kedua belah pihak apabila tinggal bersama. Kebanyakan metode ini dijalankan dengan cara hidup dalam satu atap.



4  Hidup sehat

Ini cara yang paling mudah teorinya namun pelaksanaannya cukup sulit. Saya sendiri sedang berusaha di tahap ini. Hidup sehat ini sangat bermanfaat untuk menjaga badan tidak mudah sakit, secara sakit itu kan mahal.



5. Rajin menabung

Kalau ini sudah tahu, ini cara vernakular perencanaan keuangan, dan sampai hari ini masih efektif. Instrumen keuangan menabung ini paling aman, dan jumlahnya nggak naik turun drastis sehingga cocok hampir semua orang.



6. Passion untuk uang

Apa yang saya kerjakan, sebisa mungkin menghasilkan, termasuk hobi. Sehingga, hobi kita tidak akan terlalu “banyak” makan biaya, karena bisa dimonetisasi.



7. Punya backup

Semulus apapun jalan hidup yang dilalui seseorang, pasti ada saat kelam dan mencekam, terutama soal keuangan. Rintih, dan sensitif. Salah satu backup efektif dalam kondisi darurat adalah uang cash, paling cair dan mudah digunakan untuk apapun. Cash dalam hal ini, contohnya adalah tabungan, yang bisa dicairkan kapan saja.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana dala kondisi yang cukup, dalam artian saya bukan orang yang bergelimang harta, bukan penerima warisan juga, dan keuangan menengah, apa yang bisa dilakukan? Kalau saya pribadi, saya memilih untuk mengalihkan biaya jajan ke sesuatu yang lebih berguna, contohnya asuransi.

Asuransi, lagi? Saya pikir tadinya, asuransi itu mahal, ribet, dan saya paling benci kalau harus ketemu agen yang ngobrol dan menjelaskan dengan semangat. Saya nggak suka dijuali, kalau saya mau beli saya akan beli.

Terus kemarin itu saya mencoba cari-cari asuransi yang biayanya murah, nggak ketemu sales (jujur saya males ketemu sales yang annoying) dan dibelinya mudah. Beneran, ketemunya yang harganya terjangkau, yang saya beli ini adalah Simas Jiwa Hospital Cash Cover yang preminya mulai dari Rp 9.900,00 per bulan.

Satu hal yang saya suka, selain harganya terjangkau, dan tentunya sesuai kebutuhan saya, belinya sangat mudah hanya hitungan menit di aplikasi saja. Malas download aplikasinya? Ini saya belinya di aplikasi Grab.

Berikut cuplikan langah pembeliannya yang sangat mudah: buka aplikasi Grab, pilih “more” > “insurance” > “Hospital Cash Cover”, nah setelah ini tinggal pilih plannya saja.






















Ini metode pembayarannya bisa menggunakan OVO, kartu kredit, maupun bank transfer.



Saya memilih dengan kartu kredit akan diarahkan ke gerbang pembayaran seperti di bawah ini.

 
 
 
Nah setelah itu sudah tinggal ikuti langkah selanjutnya dan polis nanti akan muncul di email serta di aplikasi.

Di sini saya bisa beli sendiri untuk saya, maupun anggota keluarga saya, dengan pembayaran yang bisa bulanan atau full per tahun. Covernya bisa maksimal 250.000 per hari.

Yang saya lihat sekarang apa-apa mudah, termasuk beli barang, juga beli asuransi, di mana asuransi ini jadi perencanaan keuangan yang wajib setelah saya melewati 30 tahun. Terus di bawah 30 tahun ke mana saja? Ya saya pikir tadinya tidak butuh, terus kan saya kira lama, musti tanda tangan polis, eh sekarang apa-apa mudah dan serba digital.

Kemudahan ini yang menurut saya membantu dan bermanfaat, apalagi dijadikan kayak gift card seperti ini kan berguna sekali.

Share dong di komentar, perencanaan keuangan seperti apa lagi yang cocok diterapkan sekarang?

No comments

Post a Comment